smilehasan

A bunch of ideas

Persahabatan Kita

Persahabatan ibarat rembulan dan mentari
Terkadang ia begitu dekat
Namun ada pula masanya ketika keduanya harus menjauh

Begitu pula dengan ikatan di antara kita kawan
Ada pertemuan
Tentu ada pula perpisahan
Meski terkadang itu berarti sangat berat bagi kita

Namun
Sadarkah kau kawan??

Dalam realitanya
Ketika rembulan telah begitu dekat dengan mentari
Itulah masa pertemuan diantara keduanya
Mereka akan menghasilkan nuansa indah
“Gerhana matahari”
Begitu orang bilang

Lalu seiring berjalannya waktu
Rembulan pun menjauh dari mentari
Dan terciptalah perpisahan di antara mereka

Ketika rembulan telah begitu jauh dari mentari
Mereka pun akan menghasilkan nuansa yang tak kalah indahnya
“Gerhana bulan”
Mereka pun terikat fitrah tuk bertemu kembali

Aku berharap
Seperti itulah persahabatan kita
Disaat kita saling dekat
Akan ada nuansa yang menyenangkan
Membangkitkan, menggugah semangat yang telah tertidur
Hingga membuat kita merasa
Kita mampu tuk lalui semuanya

Dan disaat tiba waktunya tuk berpisah
Yakinilah kawan
Bahwa diantara kita akan selalu ada
Jejak-jejak, bekas-bekas
Dari persahabatan kita
Yang takkan pernah hilang
Yang selalu menemani hidup kita
Yang tetap membuat kita yakin
Bahwa kita mampu tuk hadapi semuanya

Hingga ketika kita telah begitu jauh
Semoga fitrah itu kembali muncul
Yaitu sebuah rasa
Yang menjanjikan bahwa kita kan kembali
Kita kan kembali bersatu
Kita kan kembali bersama
Hingga kita kembali menciptakan jejak-jejak persahabatan
Yang takkan pernah hilang selamanya

 

16641_1184203054328_2423546_n
*teruntuk seluruh kawan-kawan seperjuanganku.🙂

Leave a comment »

Itsar

Oleh Sholeh Ibnu Munawwir

Seseorang datang bertamu kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, namun ketika Rasul bertanya kepada istri-istrinya, tak seorangpun di antara mereka yang mempunyai simpanan makanan untuk menjamu tamu tersebut. Akhirnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menawarkan kepada para shahabatnya, beliau bersabda, “Barangsiapa di antara kalian yang mau menjamu tamu ini, maka Allah akan merahmatinya.” Berdirilah seorang sahabat dari kalangan Anshar, seraya berkata, “Saya akan menjamunya wahai Rasulullah.”

Akhirnya, diajaknyalah tamu tersebut pulang ke rumahnya. Sesampai di rumah, sahabat Anshar ini bertanya kepada istrinya, “Wahai istriku, apakah engkau masih memiliki sesuatu (makanan)?” Sang istri pun menjawab, “Tidak, selain sedikit persediaan (makanan) untuk anak-anak kita.” Maka spontan ia berkata kepada istrinya, “Rayulah anak-anak agar mereka bermain-main, sehingga lupa akan rasa lapar, lalu matikanlah lampu pada waktu makan, dan berpura-puralah bahwa kita juga sedang makan, pada saat tamu kita makan.”

Maka, pada waktu makan malam, dimatikanlah lampu di rumah tersebut, dan dihidangkannya makanan yang semestinya untuk anak-anak mereka, lalu mereka berpura-pura menyantap hidangan bersama sang tamu yang sedang menikmati makan malamnya.

Hingga pada pagi hari, ketika shahabat Anshar ini menghadap kepada Rasulullah, beliau berkata, “Allah heran dengan tingkah kalian berdua terhadap tamu kalian tadi malam,” Lalu turunlah surat al-Hasyr ayat 9, berkaitan dengan kisah sahabat Anshar ini.

Mengutamakan Kebutuhan Saudaranya

Sungguh, kisah di atas bukanlah dongeng yang biasa diceritakan untuk anak-anak menjelang tidur, atau cerita-cerita fiksi yang ada di film dan sinetron di televisi. Kisah yang sangat menggugah dan mengagumkan di atas adalah teladan nyata yang dipertontonkan oleh salah satu generasi terbaik yang dimiliki oleh dunia, sebagaimana termaktub di dalam hadits Bukhari Muslim. Kisah yang sulit ditemukan padanannya, terlebih pada zaman modern ini yang mana manusia sudah terjangkiti penyakit egois dan individualis (Ananiyah). “Jangankan untuk berbagi kepada orang lain, untuk diri sendiri saja masih kurang,” begitu kita sering berdalih.

Padahal persediaan makanan dan bekal lain yang ada di rumah kita, bukan hanya cukup untuk satu hari atau satu minggu, namun persediaan untuk beberapa bulan ke depan pun sudah kita punyai, tetapi tak timbul sedikitpun rasa belas kasih dan keinginan berbagi kepada orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan. Sementara sudah sama-sama kita hafal sabda Rasulullah yang menyatakan bahwa kita belum beriman jika kita dalam keadaan kenyang (atau kekenyangan?), dan kita acuh dan abai terhadap orang-orang di sekitar kita yang bermalam dalam keadaan perut kosong karena tak mempunyai sedikitpun makanan di rumahnya.

Betapa shahabat Anshar ini begitu ikhlas dan hanya mencari ridha Allah dan Rasul-Nya, dengan mengutamakan agar kebutuhan saudaranya (bahkan orang yang baru dikenalnya) terpenuhi dengan mengabaikan dirinya dan keluarganya, Allah menurunkan ayat, “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (Q.S Al-Hasyr : 9)

Itulah itsar, mendahulukan dan mengutamakan kepentingan dan kebutuhan orang lain dari diri sendiri, sedang diri sendiri juga dalam keadaan yang sangat membutuhkan. Sebuah akhlak mulia yang diukir dengan tinta emas dalam sejarah bagi pelaku-pelakunya, menembus ke langit hingga Allah Swt heran dan takjub.

Lebih Memilih Dunia

Sesungguhnya itsar bukanlah sesuatu yang utopia dan tidak mungkin kita hiaskan pada diri kita sebagai akhlak dan sifat kita, namun terkadang nafsu akan dunia sangat dominan bercokol di hati dan fikiran kita. Pertimbangan dan perhitungan untung rugi yang bersifat materi dan keduniaan sering kali membuat kita merasa berat jika kita ingin memberikan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan yang pada saat yang sama kita juga membutuhkan.

Hitunglah betapa seringnya kita memberikan isyarat dengan tangan kita kepada orang yang meminta-minta, sebagai tanda kalau kita tak hendak memberi, betapa seringnya kita menerima tamu di rumah kita sebagai beban yang merepotkan, padahal Rasulullah sudah mengingatkan kita barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia memuliakan tamunya. Atau betapa seringnya tetangga sebelah rumah kita hanya mencium harum dan sedapnya aroma makanan yang kita masak, tanpa pernah terfikir di benak kita untuk berbagi dengan mereka.

Kita tahu bahwa seberat dzarrah pun kebaikan, pasti Allah akan memberikan ganjaran dan pahalanya di akhirat nanti, namun perasaan kurang yakin dan egoisme yang ada di dada kita senantiasa menghalangi kita untuk berbuat baik, sehingga kita lebih mementingkan kebahagiaan di dunia dan mengabaikan kebahagiaan yang abadi di akhirat. Angan dan khayal kita tentang dunia senantiasa membumbung tinggi, sehingga lalai mempersiapkan kehidupan di akhirat dengan amal-amal shalih.

Bagi para pemujanya, dunia adalah segala-galanya. Yang mereka cari dan usahakan adalah kebahagiaan dunia an sich, dengan melupakan Allah dan akhirat. Sehingga saat kematian menjemputnya, kebahagiaanya terhenti sampai di situ, yang tinggal hanyalah sesal dan sengsara. Allah Swt berfirman tentang orang-orang ini, “Tetapi kalian lebih memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Q.S al-A’la : 16-17)

Itsar yang sering kita anggap sebagai sesuatu yang sulit dan berat kita lakukan, telah diabadikan dalam sejarah dengan tinta emas oleh para shahabat Rasul dengan sangat mengagumkan. Bukan hanya sebatas lapar dan haus yang mereka tanggung demi saudaranya, namun nyawa mereka persembahkan untuk Allah Swt, demi itsar terhadap saudaranya, sebagai teladan dan hikmah untuk kita. Insya Allah.

Dalam perang Yarmuk, dari Abdullah bin Mush’ab Az Zubaidi dan Hubaib bin Abi Tsabit, keduanya menceritakan, “Telah syahid al-Harits bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amr. Mereka ketika itu akan diberi minum, sedangkan mereka dalam keadaan kritis, namun kesemuanya saling menolak. Ketika salah satu dari mereka akan diberi minum dia berkata, “Berikan dahulu kepada si fulan, demikian seterusnya sehingga semuanya meninggal dan mereka belum sempat meminum air itu.

Dalam riwayat lain perawi menceritakan, “Ikrimah meminta air minum, kemudian ia melihat Suhail sedang memandangnya, maka Ikrimah berkata, “Berikan air itu kepadanya.” Dan ketika itu Suhail juga melihat al-Harits sedang melihatnya, maka iapun berkata, “Berikan air itu kepadanya (al Harits). Namun belum sampai air itu kepada al Harits, ternyata ketiganya telah meninggal tanpa sempat merasakan air tersebut (setetespun).

Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah-kisah tersebut.
Wallahu A’lam.

Leave a comment »

“Dalam sebuah ujian sekolah, hanya terdapat satu jawaban benar. Jika kau tak menemukannya, Kau akan gagal. Berbeda dengan kehidupan. Jawaban benar untuk terus hidup ada banyak. So, don’t give up on finding the answer of your life.”

Leave a comment »

Kutipan

ijin reblog juga ya🙂

Out of Cave

Oh dear, jika dua orang memang benar2 saling menyukai satu sama lain. Itu bukan berarti mereka harus bersama saat ini juga. Tunggulah di waktu yang tepat, saat semua memang sudah siap, maka kebersamaan itu bisa jadi ‘hadiah’ yg hebat utk orang2 yg bersabar.

Sementara kalau waktunya belum tiba, sibukkanlah diri utk terus menjadi lebih baik, bukan dengan melanggar banyak larangan. Waktu dan jarak akan menyingkap rahasia besarnya, apakah rasa suka itu semakin besar, atau semakin memudar.

oleh Tere Liye, via Facebook.

Tere Liye selalu punya status yang bagus di facebook, dan yang menyukainya biasanya sampai ratusan. Ah, aku rasa lebih bagus lagi kalau Tere Liye membuat tumblr atau blog.

View original post

Leave a comment »

Adsorpsi Isothermis in “Real”

Udah lama banget nggak ngeblog. Jadi pengin coba-coba nulis.

Hari ini, senin, entah mengapa aku semangat banget ga kaya biasanya (loh? hehe). Bismillah, dan hari senin ini pun aku mulai.

Mata kuliah pertama hari ini, Kimia Fisika (KF), Alhamdulillah bisa dateng di kelas dengan on time. Dan kuliah pun dimulai. Kali ini bab yang dibahas adalah tentang adsorbsi isothermis (ada yang tau?).

Sebelum masuk lebih jauh, beberapa hal ini harus dipahami terlebih dahulu. Pertama, absorpsi tidak sama dengan adsorpsi. Kedua, absorpsi merupakan penyerapan hingga ke bagian dalam. Sedangkan, adsorpsi merupakan penyerapan hanya pada permukaan. Ketiga, adsorbat = zat yang diadsorpsi. Sedangkan adsorbent = zat yang mengadsorpsi (biasanya solid). Dari sini kita dapat memahami bahwa seseorang akan memiliki sifat adsorbent/mampu menarik orang lain (adsorbat) ketika ia memiliki sifat yang solid/kokoh.

Adsorbsi isothermis adalah hubungan yang menunjukkan distribusi adsorbat pada permukaan adsorbent dengan kondisi setimbang pada temperatur tertentu. Ternyata kita juga dapat mencoba mengaplikasikan pemahaman akan adsorpsi isothermis tersebut dari sudut pandang kehidupan, adsorpsi isothermis itu merupakan hubungan antara dua orang yang saling memberi dan menerima dalam kondisi tertentu.

Aku coba jelasin “sedikit” materi ini ya.. Adsorpsi isothermis secara lapisan dibagi menjadi 2, yaitu monolayer dan multilayer.

Monolayer berarti dalam proses adsorpsi hanya terbentuk satu lapisan yang tersusun oleh adsorbat di permukaan adsorbent nya. Biasanya peristiwa ini disebabkan oleh ikatan kimia, atau bahasan lainnya adalah chemisorption (penyerapan secara kimia). Biasanya adsorpsi jenis ini sifatnya kuat. Karena antara adsorbat dan adsorbent terdapat chemistry yang mendalam. Pun begitu dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita menjalin hubungan yang memiliki chemistry kuat, maka hubungan tersebut akan kokoh dan tidak mudah terlepas. Dan tentunya hubungan tersebut tunggal, tidak mendua. (hehe..)

Sedangkan tipe kedua, yaitu multilayer. Adsorpsi multilayer merupakan adsorpsi yang membentuk lapisan adsorbat pada permukaan adsorbent lebih dari satu. Bisa dua, tiga, atau lebih. Lapisan tersebut disebabkan adanya gaya Van der Waals yang dimiliki molekul-molekul adsorbat sehingga memiliki daya tarik yang lemah. Biasanya adsorpsi jenis ini terjadi secara physisorption (penyerapan secara fisik). Sehingga ia mudah lepas setelah menempel. Naah dalam kehidupan sehari-hari, peristiwa ini biasanya terjadi pada kita dan teman-teman kita. Terkadang dekat, namun terkadang bisa terputus meski sejenak. Hal ini dikarenakan hanya terjadi kontak fisik, tanpa ada chemistry.

Subhanallah..Allah sudah mengatur sedemikian rupa agar kita dapat mengambil pelajaran.🙂

Kurang lebih begitulah penjelasan dosen tadi.hehe. CMMIIW.😀

Leave a comment »

Nasib Bahasa Daerah

Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia. Salah satu dampak dari banyaknya pulau-pulau di Indonesia yaitu terdapatnya banyak suku yang berbeda di beberapa pulau besar seperti pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya. Tentunya keberagaman suku tersebut turut mempengaruhi bahasa percakapan yang digunakan oleh masing-masing suku tersebut.

Dahulu, bahasa daerah biasanya digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang “dituakan”. Sehingga jika ada seseorang yang dapat menggunakan bahasa daerah dengan baik dan benar maka ia akan dihormati oleh masyarakat sekitar. Tanpa mengesampingkan kepribadian orang-orang yang bermacam-macam, masyarakat jawa memiliki kepribadian dasar yang ramah dan santun. Oleh karenanya, orang-orang yang saat ini memiliki kemampuan berbahasa daerah dengan baik akan relatif lebih mudah bernegosiasi dengan para petua di daerah masing-masing.

Penurunan pemakaian bahasa daerah tidak lepas dari peran media dan globalisasi. Saat ini, media yang memiliki branding kebarat-baratan lebih disukai daripada media yang tidak menggunakannya. Sehingga banyak media, baik media offline atau online, menggunakan bahasa asing dalam pemasaran atau komunikasinya. Pun begitu, masyarakat saat ini pada umumnya menilai orang yang pintar adalah orang yang memiliki kemampuan berbahasa asing. Semakin banyak bahasa asing yang dikuasai seseorang, semakin cerdas orang tersebut.

Saat ini, orang yang sanggup menggunakan bahasa daerah dengan baik sudah menurun drastis. Mereka menjadi orang yang langka. Parahnya, masyarakat muda dewasa ini menilai pemakaian bahasa daerah sudah tertinggal oleh zaman. Sehingga orang desa tidak bangga lagi ketika ia sanggup menggunakan bahasa daerah. Sehingga jangan salahkan siapa-siapa jika suatu saat Malaysia akan mengklaim salah satu bahasa daerah yang terdapat di Indonesia.

Salah satu dampak globalisasi yang berperan dalam penurunan penggunaan bahasa daerah adalah dalam proses rekruitmen karyawan/pekerja baru. Seringkali tuntutan pekerjaan adalah pelamar memiliki kemampuan berbahasa asing dengan baik dan benar. Mungkin tidak berdampak langsung pada penurunan penggunaan bahasa asing, namun secara tidak langsung hal tersebut menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa daerah dengan bai seolaholah bukan merupakan nilai lebih. Sehingga seseorang menjadi lebih bangga ketika ia sanggup berbahasa asing daripada bahasa daerah.

Oleh karena itu, perlu adanya “penyelamatan” bahasa daerah yang dilakukan secara bersama-sama baik secara represif maupun preventif. Pemerintah, masyarakat, dan mahasiswa memiliki peranan besar di sini. Pemerintah sebagai eksekutif memiliki peranan untuk membuat kebijakan yang bersifat menanggulangi serta mencegah punahnya bahasa daerah di Indonesia. walaupun terkesan berlebihan, hal tersebut penting untuk dilakukan mengingat pemakaian bahasa daerah saat ini hanya belaku di daerah-daerah yang masih memiliki budaya yang kental di wilayahnya. Beberapa daerah lain sudah mulai terkena dampak globalisasi serta akulturasi yang marak terjadi disebabkan adanya urbanisasi di beberapa daerah.

Masyarakat selaku pelaku utama dari pemakaian bahasa daerah pun harus terus mendukung upaya penyelamatan yang dilakukan oleh pemerintah secara penuh. Seringkali rasa apatis muncul terlebih dahulu ketika sebuah peraturan baru dibuat. Karena masyarakat merasa hal tersebut tidak dapat mengubah hidup mereka menjadi lebih baik. Padahal tujuan dari dibentuknya sebuah peraturan memang seringkali tidak berdampak langsung, namun lebih kepada upaya penyelamatan.

Mahasiswa selaku Iron stock pun memiliki peranan yang tak kalah penting pula. Mahasiswa dapat berperan dalam melindungi bahasa daerah dari kepunahan dengan membuat program-program kreatif yang bersifat aplikatif di masyarakat seperti membuat software belajar bahasa daerah, atau belajar bahasa daerah dengan online. Karena salah satu yang membuat penurunan penggunaan bahasa daerah adalah sistem pengajarannya yang masih bersifat konvensional. Artinya media pengajarannya melulu itu-itu saja dan tidak bersifat dinamais sebagaimana ketika kita belajar bahasa asing. Di sinilah peranan mahasiswa diperlukan.

Jika ketiga unsur tersebut sudah memiliki itikad baik untuk melindungi bahasa daerah di lingkungannya masing-masing, maka Indonesia patut berbangga dengan bahasa Indonesianya. Karena kita tetap sanggup mempertahankan warisan lokal serta terus bergerak maju secara progresif menjadi Negara yang lebih baik daripada sebelumnya.

Leave a comment »

Bagaimana pendapat anda tentang ini?

Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”

“Dari Indonesia,” jawab saya.

Dia pun tersenyum.

 

BUDAYA MENGHUKUM

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.

Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

***

Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.

Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”

Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

MELAHIRKAN KEHEBATAN

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.

Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.

Leave a comment »

Indonesia, Harapan Itu Masih Ada

Pertandingan Indonesia versus Turkmenistan malam ini cukuplah untuk melihat wajah Indonesia saat ini. Keunggulan yang awalnya 3-0 ditutup dengan skor 4-3, empat untuk Indonesia dan tiga untuk Turkmenistan. Yang perlu disorot di sini adalah Indonesia kecolongan tiga gol hanya dalam dua puluh menit terakhir (tidak termasuk injury time). Beruntung timnas masih memiliki sosok kiper  tangguh yang rela jatuh-bangun hingga Indonesia ‘hanya’ kebobolan tiga gol saja. Meskipun secara peringkat dunia timnas memang berada di atas Turkmenistan, namun kejadian ini seharusnya bisa kita jadikan pelajaran.

Yuk coba kita evaluasi dulu.
Kalau kita perhatikan secara menyeluruh, sebenarnya permainan timnas Indonesia malam ini sangat mirip dengan situasi dan kondisi masyarakat Indonesia sekarang. Dimulai dari pembinaan sepak bola yang kurang sigap, sehingga berdampak pada permainan yang mulanya berjalan baik semakin lama semakin menurun.  Hal itu didukung oleh birokrasi yang seharusnya bertanggung jawab untuk membina timnas sebaik mungkin, namun mengabaikan nilai-nilai pembinaan tersebut.

Kalau kita perhatikan, sebenarnya kejadian seperti itulah yang sekarang sedang terjadi di masyarakat Indonesia. Pembinaan yang kurang sigap mengakibatkan banyak bibit-bibit unggul yang tidak berkembang seperti yang diharapkan, tidak resisten menghadapi tantangan-tantangan hidup. Pihak yang seharusnya membina anak-anak Indonesia agar bisa eksis menghadapi tantangan mulai mengabaikan nilai-nilai pembinaan. Parahnya, mereka melakukan ini dengan sangat terorganisir. Sehingga semakin klop-lah keterpurukan bangsa ini. Sikap goal oriented seperti ini harus segera kita benahi. Memang sebuah tujuan itu penting, namun bila dalam prosesnya banyak nilai-nilai kebaikan yang diabaikan hasil yang dicapai pun tak akan membawa manfa’at lebih dari sekadar tujuan yang terpenuhi (itu pun kalau terpenuhi ya..).

Yang selanjutnya menjadi sorotan di sini adalah kebiasaan buruk. Sudah menjadi kebiasaan timnas menjadi lengah ketika memasuki fase-fase krusial. Jujur, sebenarnya saya memprediksi skor akhir menjadi draw 3-3. Namun keunggulan yang menjadi 4-1 membuat saya menjadi sedikit lebih tenang, karena secara logika sangat berat untuk mengejar ketertinggalan empat gol tersebut. Ya itu dia, konsistensi masyarakat Indonesia ketika memasuki fase-fase krusial cenderung menurun. Sehingga keunggulan yang seharusnya dapat dijadikan modal menang bisa menjadi bumerang.

Indonesia harus berani mengubah kebiasaan buruk yang selama ini melekat pada diri bangsa ini. Tak masalah gagal sekarang, asal ada nilai kebaikan yang bisa diambil dari kegagalan tersebut. Itulah mengapa kegagalan menjadi satu langkah menuju kesuksesan. Hal ini yang sering kita lupakan. Kita terlalu takut untuk menerima sebuah kegagalan.

Namun segalanya masih belum terlambat jika kita mau memperbaiki diri kita sendiri. Dimulai dari sekarang. Berapapun usia kita, tidak ada kata terlambat untuk sebuah usaha menuju kebaikan. Begitu pula dengan Indonesia. Tidak ada kata terlambat bagi bangsa kita untuk bangkit kembali meuju masa kejayaannya. Dan sekali lagi, semua perubahan menuju kebaikan itu dimulai dari diri kita sendiri.

Ya, harapan itu masih ada… =)

2 Comments »

Aku tidak memilih menjadi INSAN BIASA!

Aku tidak memilih menjadi insan biasa
Memang hakku untuk menjadi luar biasa
Aku mencari kesempatan bukan perlindungan.
Aku tidak ingin menjadi warga yang terkungkung
Rendah diri dan terpedaya karena dilindungi pihak berkuasa
Aku siap menghadapi resiko terencana
Berangan-angan dan membina
Untuk gagal dan sukses

Aku menolak menukar insentif dengan derma
Aku memilih tantangan hidup daripada derma
Aku memilih tantangan hidup daripada kehidupan yang terjamin,
Kenikmatan mencapai sesuatu, bukan utopia yang basi.
Aku tidak akan menjual kebebasanku,
Tidak juga kemuliaanku untuk mendapatkan derma,

Aku tidak akan merendahkan diri
Pada sembarang atasan dan ancaman.
Sudah menjadi warisanku untuk berdiri tegak, megah dan berani
Untuk berpikir dan bertindak untuk diri sendiri.
Untuk meraih segala keuntungan hasil kerja sendiri
Dan untuk menghadapi dunia dengan berani dan berkata:
“Ini telah kulakukan!”
segalanya ini memberikan makna seorang insan

Den Alfange
(Perancis)

Catatan:
-Puisi ini sudah mengubah puluhan juta orang di dunia
-baca secara perlahan, resapi maknanya


Life for Success
Regards,
HENDRY RISJAWAN – YC0LKJ
Mind Motivator & Trainer

Leave a comment »

Pernah Ada Masa-masa

pernah ada masa-masa dalam cinta kita

kita lekat bagai api dan kayu

bersama menyala, saling menghangatkan rasanya

hingga terlambat untuk menginsyafi bahwa

tak tersisa dari diri-diri selain debu dan abu

pernah ada waktu-waktu dalam ukhuwah ini

kita terlalu akrab bagai awan dan hujan

merasa menghias langit, menyuburkan bumi,

dan melukis pelangi

namun tak sadar, hakikatnya kita saling meniadai

di satu titik lalu sejenak kita berhenti, menyadari

mungkin hati kita telah terkecualikan dari ikatan di atas iman

bahkan saling nasehatpun tak lain bagai dua lilin

saling mencahayai, tapi masing-masing habis dimakan api

kubaca cendikiawan dinasti ming, feng meng long

menuliskan sebaitnya dalam ‘yushi mingyan’;

“bungapun layu jika berlebih diberi rawatan

willow tumbuh subur meski diabaikan”

maka kitapun menjaga jarak dan mengikuti nasihat ‘ali

“berkunjunglah hanya sekali-sekali, dengan itu cinta bersemi”

padahal saat itu, kau sedang dalam kesulitan

seperti katamu, kau sedang perlu bimbingan

maka seolah aku telah membiarkan

orang bisu yang merasakan kepahitan

menderita sendiri, getir dalam sunyi

-ataukah memang sejak dulu begitulah aku?-

dan sekarang aku merasa bersalah lagi

seolah hadirku kini cuma untuk menegur

hanya mengajukan keberatan, bahkan menyalahkan

bukan lagi penguatan, bukan lagi uluran tangan

-kurasa uluran tanganku yang dulupun membuat kita

hanya berputar-putar di kubangan yang kau gali itu-

kini aku hanya menangis rindu membaca kisah ini;

satu hari abu bakr, lelaki tinggi kurus itu menjinjing kainnya

terlunjak jalannya, tertampak lututnya, gemetar tubuhnya

“sahabat kalian ini”, kata Sang Nabi pada majelisnya, “sedang kesal

maka berilah salam padanya dan hiburlah hatinya..”

“antara aku dan putera al khaththab”, lirih abu bakr

dia genggam tangan nabi, dia tatap mata beliau dalam-dalam

“ada kesalahfahaman. lalu dia marah dan menutup pintu rumah.

kuketuk pintunya, kuucapkan salam berulangkali untuk memohon maafnya,

tapi dia tak membukanya, tak menjawabku, dan tak juga memaafkan.”

tepat ketika abu bakr selesai berkisah, ‘umar datang dengan resah

“sungguh aku diutus pada kalian”, Sang Nabi bersabda

“lalu kalian berkata ‘engkau dusta!’, wajah beliau memerah

“hanya abu bakr seorang yang langsung mengiya, ‘engkau benar!’

lalu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya.

masihkah kalian tidak takut pada Allah untuk menyakiti sahabatku?”

‘umar berlinang, beristighfar dan berjalan simpuh mendekat

tapi tangis abu bakr lebih keras, air matanya bagai kaca jendela lepas

katanya, “tidak ya Rasulallah.. tidak.. ini bukan salahnya..

demi Allah akulah memang yang keterlaluan..”

lalu diapun memeluk ‘umar, menenangkan bahu yang terguncang

ya Allah jika kelak mereka berpelukan lagi di sisiMu

mohon sisakan bagian rengkuhannya untuk kami

pada pundak, pada lengan, pada nafas-nafas ini..

copypaste from : salim a. fillah –www.fillah.co.cc

Leave a comment »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.